Setoran Pajak Hingga Februari Rp 190 Triliun

Harian Kontan, 13 Maret 2014

JAKARTA. Sejak awal tahun, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian  Keuangan  (Kemkeu)  sudah  sibuk mengejar penerimaan pajak. Pasalnya, meski tahun 2013 tak mencapai target, tahun 2014, pemerintah  kembali  menaikkan target penerimaan pajak.
Sesuai  dengan  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (2014), target penerimaan pajak naik 24,28% menjadi Rp 1.110,9 triliun. Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemkeu) Ahmad Fuad Rachmany mengatakan, tanpa usaha maksimal, penerimaan pajak sulit tercapai. Hingga dua bulan pertama 2014, penerimaan pajak telah mencapai sekitar Rp 190 triliun. Angka  ini melesat  tajam lantaran pada bulan Januari, setoran bajak hanya sebesar 71,52 triliun. Ini artinya, dalam sebulan  ada  tambahan  Rp14,5 triliun. Menurut  Fuad,  pajak  tak ingin  mengulangi kinerja tahun lalu yang gagal mencapai target lantaran hanya mampu mengumpulkan  setoran  Rp 893,3 triliun atau 92% dari target Rp 995,2 triliun. Apalagi,  tahun  ini, banyak hambatan menghadang. Dari isi penerimaan ekspor, ada kemungkinan akan turun. Selain itu pertumbuhan ekonomi juga bisa sedikit tersendat.
Meski begitu, Fuad  mengaku  tidak  mau  buru-buru mengajukan revisi target penerimaan  pajak.  Keputusan menurunkan target penerimaan  negara  harus  ditentukan melalui  revisi anggaran yakni di Anggaran Pendapatan dan Belanja  Negara  Perubahan (APBN-P).  “Kami hanya bisa bekerja maksimal supaya realisasi  tahun  ini  tidak  turun,” kata  Fuad,  di  kantor Wakil Presiden RI, Rabu (12/3). Fuad   memilih melakukan ektensifikasi sumber penerimaan  pajak,  antara  lain  ke pengusaha  kecil  dan menengah  lewat  kebijakan  pajak final 1% dari omzet. Pajak juga akan menggeber penerimaan negara  lewat pajak properti, khususnya  real  estat. Pajak menduga  ada  selisih  pajak yang belum dibayarkan para pengusaha properti. Hanya saja, niat ini hingga kini belum kunjung terlaksana.
Revisi target
Meski kantor pajak pesimistis, pengamat pajak dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Ronny Bako menilai pertumbuhan  realisasi  penerimaan perpajakan cukup pesat. “Dalam sebulan sudah bertambah Rp 114,5 triliun itu besar sekali,” ujar Ronny.
Namun, Ronny  pesimistis kinerja pajak akan berlanjut hingga akhir  tahun.  Ia memperkirakan, target penerimaan pajak tahun ini sulit tercapai, meski pajak menyiapkan pelbagai strategi lantaran ekonomi akan melambat. Berkaca realisasi  tahun lalu, Ditjen Pajak tidak sanggup mengejar  targetnya. Belum lagi upaya ekstensifikasi tidak membuahkan hasil maksimal. Ronny meyakini pemerintah  akan  memilih  cara pragmatis menurunkan target pajak  tahun  ini.  “Kondisinya sulit  untuk mengejar  target pajak,” ujar Ronny. Saat  ini,  pemerintah  juga sedang persiapan penyusunan Rancangan APBN Perubahan 2014. Sejumlah pos pendapatan dan belanja negara  akan mengalami perubahan, termasuk penerimaan perpajakan.
Revisi  target  penerimaan perpajakan juga sudah menjadi agenda rutin  tahunan. Tahun  lalu misalnya,  awalnya pemerintah mematok  target penerimaan  perpajakan  Rp 1.192  triliun,  sebanyak  Rp 1.134,30  triliun  bersumber dari pajak dalam negeri.
Kemudian saat melakukan pembahasan  APBN Perubahan, target tersebut menyusut menjadi Rp 1.139,35  untuk seluruh penerimaan perpajakan,  dan  pajak  dalam  negeri menyumbang Rp 1.090,93 triliun. Sayang, meski target penerimaan  telah  dipangkas, kantor pajak tetap saja tetap gagal memenuhi  setorannya di tahun  lalu.